Kamis, 01 Desember 2022

 

Pelaksanaan Muktamar Muhammadiyah ke-48

Miladia Rahma (A310190230)

Rangkaian Muktamar ke-48 Muhammadiyah tahun 2022 digelar pada 18-20 November 2022 di Solo, Jawa Tengah. Muktamar Muhammadiyah adalah permusyawaratan tertinggi di Muhammadiyah. Muktamar adalah momen silaturahmi dan kolaborasi warga persyarikatan se-Indonesia bahkan dunia. Muktamar Muhammadiyah juga bertujuan untuk memperingati Milad Muhammadiyah yang diperingati pada tanggal 18 November setiap tahunnya. Dilaksanakan dua muktamar pada tahun ini, yaitu Muktamar Muhammadiyah dan Muktamar 'Aisyiyah.



Muktamar Muhammadiyah 2022 mengusung tema "Memajukan Indonesia Mencerahkan Semesta". Adapun agenda Muktamar Muhammadiyah ke-48 dimulai dari penyampaian laporan dan program hingga pemilihan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Hasil Muktamar Muhammadiyah ke-48 telah diumumkan. Muktamar ini menghasilkan salah satunya daftar anggota pengurus PP Muhammadiyah untuk periode berikutnya yakni periode 2022-2027. Pemilihan Anggota PP Muhammadiyah Periode 2022-2027 dinyatakan selesai pada Sabtu (19/11/22) malam. Pemilihan berlangsung selama kurang lebih 3,5 jam. Pemilihan ini menghasilkan 13 Anggota Terpilih PP Muhammadiyah yaitu 1) Haedar Nashir, 2) Abdul Mu'ti, 3) Anwar Abbas, 4) Busyro Muqoddas, 5) Hilman Latief, 6) Muhadjir Effendy, 7) Syamsul Anwar, 8) Agung Danarto, 9) Saad Ibrahim, 10) Syafiq A Mughni, 11) Dadang Kahmad, 12) Ahmad Dahlan Rais, dan 13) Irwan Akib. Ke-13 anggota terpilih PP Muhammadiyah pun kemudian bermusyawarah untuk menentukan ketua umum (Ketum) Muhammadiyah untuk masa jabatan 2022-2027. Ketum Muhammadiyah terpilih juga sudah diumumkan pada akhir sidang Muktamar ke-48 Muhammadiyah. Berdasarkan hasil Muktamar Muhammadiyah ke-48, Haedar Nashir kembali terpilih menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2022-2027. Sementara itu, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah dijabat oleh Abdul Mu'ti. Acara kemudian dilanjutkan serah terima jabatan dari pengurus PP Muhammadiyah periode 2017-2022 ke pimpinan periode 2022-2027.

Sementara untuk tema Muktamar 'Aisyiyah ke-48 adalah "Perempuan Berkemajuan Mencerahkan Peradaban Bangsa". Sidang Pleno IV Muktamar Aisyiyah 48 yang diiikuti oleh 1814 anggota yang memiliki hak suara telah memilih 7 orang anggota Tim Formatur. Sejumlah 7 orang anggota tim formatur tersebut kemudian memilih 6 calon Ketua PP Aisyiyah lainnya. Berikut 13 nama Anggota PP Aisyiyah periode 2022-2027, 1) Siti Noordjannah, 2) Siti Aisyah, 3) Salmah Orbayinah, 4) Rohimi Zam Zam, 5) Dr. Tri Hastuti Nur Rochimah, 6) Masyitoh, 7) Latifah Iskandar, 8) Atiyatul Ulya, 9) Evi Sofia Inayati, 10) Rita Pranawati, 11) Diyah Suminar, 12) Siti Muslimah Widyastuti, dan 13) Diyah Puspitarini. Dari 13 nama-nama tersebut terdapat sejumlah nama yang merepresentasikan angkatan muda. Hal tersebut juga sesuai dengan pesan Noordjannah saat membuka Sidang Pleno I Muktamar 48, “Aisyiyah ke depan harus lebih maju, kecepatannya harus tiga kali lebih cepat dari dinamika yang telah diusahakan periode ini.” Kemudian Muktamar ke-48 Aisyiyah  menetapkan : Dr. apt. Salmah Orbayinah, M.Kes sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Periode 2022-2027 dan Dr. Tri Hastuti Nur Rochimah, M.Si sebagai Sekretaris Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Periode 2022-2027’.

Sabtu, 15 Oktober 2022

 

RAGA ITU

Karya: Miladia Rahma

Raga itu,

Masih kuingat usapan lembutmu

Masih kuingat kemarahanmu atas kesalahanku

Dan selalu kuingat tatapan kasih sayang yang kau tujukan padaku

 

Ada yang ingin kulupakan

Kala raga itu hanya berbaring di ranjang

Kala terdengar suara merintih kesakitan hingga perlahan suara itu menghilang

Kala wajahmu itu tak lagi bisa kupandang

Kala ragamu tak lagi bisa ku genggam

 

Raga itu,

Yang kini telah hilang

Ayahku.

Selasa, 11 Oktober 2022

 

BIRU & ABU-ABU

Dayana yang dalam bahasa Sansekerta berarti “seorang putri” adalah nama milik seorang gadis yang kini menginjak usia dewasa. Dayana merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Perjalanan hidup Dayana mulai dari kecil hingga remaja berjalan dengan baik. Sedari kecil Dayana lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-temannya dibanding dengan kedua orang tuanya. Hal ini, dikarenakan kedua orang tua Dayana yang sibuk bekerja. Dayana menikmati hidup normalnya hingga sesuatu hal yang tidak pernah terpikir olehnya menimpa keluarganya. Ayahnya sakit dan harus melakukan operasi. Syukurlah operasinya berjalan dengan lancar, namun ayahnya tidak bisa berjalan karena ada syaraf yang terjepit.

Ayahnya sudah terapi di segala tempat, namun hasilnya tetap sama. Terlalu fokus dengan kesembuhan kakinya, ayah Dayana melupakan jika dirinya memiliki penyakit gula. Suatu hari gula darah ayah Dayana sangat tinggi dan mengharuskan untuk rawat inap. Semenjak rawat inap ayah Dayana tidak menunjukkan peningkatan bahkan ayahnya harus dipindahkan ke ruang ICU.

Suatu malam keadaan di depan ruang ICU sebuah rumah sakit begitu ramai dengan orang yang sibuk berbincang-bincang. Seketika, keadaan menjadi hening saat terdengar pintu ruang ICU terbuka dan menampakkan sosok perawat.

“Bisakah salah satu keluarga pasien ikut saya ke dalam?” ucap perawat tersebut. Akhirnya kakak pertama Dayana memutuskan untuk masuk ke dalam ruang ICU. Selang beberapa menit kakak Dayana keluar dari ruang ICU untuk memanggil ibu Dayana.

“Ibu ayo masuk” jujur saja perasaan Dayana mulai tidak tenang, muncul pikiran-pikiran negatif dikepalanya. Semoga saja apa yang dipikirkan Dayana tidak benar dan semoga dirinya segera mendapat kabar baik tentang ayahnya. Namun sepertinya keinginan Dayana kecil kemungkinan akan terwujud karena sang ibu keluar dari ruang ICU dengan wajah panik.

“Dayana! Dayana! Ayo masuk, ayahmu...” mendengar perkataan ibunya membuat Dayana berlari masuk ke ruang ICU. Saat masuk, Dayana disuguhkan pemandangan yang sama sekali tidak ingin ia lihat. Terlihat seorang dokter dan beberapa perawat sedang memacu jantung ayahnya dengan alat yang Dayana tidak tahu namanya. Kesadaran Dayana kembali ketika mendengar terikan dan tangisan dari ibunya.

Dayana mendekat ke ranjang tempat ayahnya berbaring dan ikut membisikkan doa. Beberapa menit berlalu, kegiatan dokter tersebut terhenti dan menatap seluruh anggota keluarga Dayana dengan tatapan bersalah. Dayana mengerti arti tatapan itu, ayahnya sudah pergi ke tempat lain yang berbeda dengan dunia. Otak Dayana mengerti apa yang sebenarnya terjadi, namun hatinya menolak untuk mengerti.

“Ayah! Ayo bangun, ayo kita pulang hiks. Ayah aku mohon buka matamu hiks, ayah” Dayana terus mencoba membangunkan ayahnya, namun ayahnya tidak kunjung bangun. Depan ruang ICU yang semula dipenuhi dengan orang yang sibur bercakap-cakap, kini dipenuhi dengan suara tangisan dari sebuah keluarga yang kehilangan orang terkasihnya.

Beberapa hari setelah kepergian sang ayah, membuat Dayana menjadi sosok yang sedikit pendiam. Ia masih belum menerima sepenuhnya jika ayahnya sudah benar-benar pergi dari dunia. Dayana seperti menjadi seseorang yang sangat sedih di antara kumpulan orang-orang yang bahagia. Dayana merasa jika lebih menyakitkan untuk pura-pura tersenyum daripada pura-pura menangis. Setiap orang memiliki dua sisi yang berbeda yang tidak semua orang ketahui. Dayana melambangkannya dengan warna biru dan abu-abu. Warna biru melambangkan kebahagiaan dan warna abu-abu melambangkan kesepian. Dayana harus menjadi biru untuk menyembunyikan abu-abu melalui tawanya.

Seiring berjalannya waktu Dayana sadar bahwa dirinyalah yang melahirkan rasa kesepian itu. Dirinyalah yang menciptakan warna abu-abu dalam kehidupannya sendiri. Dayana menyadari jika dirinya tidak boleh merasa terus kesepian dalam menjalani hidup. Bagaimana pun hidup Dayana akan terus berjalan, seperti anak panah di langit biru. Dayana memutuskan untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Dimasa depan yang jauh, saat dirinya tertawa, ia akan memberitahu sang ayah jika ia bisa melakukannya.